Showing posts with label TEMPAT WISATA. Show all posts
Showing posts with label TEMPAT WISATA. Show all posts

Saturday, 23 October 2010

MonumenTempat Lahir Panglima Besar Jenderal Soedirman

 Panglima Besar Jenderal Soedirman lahir di Bodas karangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, pada hari senin pon tanggal 24 Januari 1916. Jenderal Soedirman di besarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah pekerja Pabrik Gula Kalibagor, dan ibunya, Siyem, keturunan Wedana Rembang. Sudirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo, asisten wedana Rembang, yang masih merupakan saudara dari Siyem.

Monumen Tempat Lahir Panglima Besar Jenderal Soedirman ini teletak di Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, sekitar 26 kilometer arah timur dari ibu kota Kabupaten Purbalingga.

Ditempat yang kini menjadi obyek wisata Monumen Sudirman ini, diruang belakang terdapat replika ayunan bayi yang terbuat dari bambu dan bok tempat tidur untuk Sudirman. Disampingnya sepasang meja kursi dan dua buah dipan, yang sering digunakan oleh Raden Cokro Sunaryo sang ayah untuk beristirahat. Sementara di ruang depan, merupakan tempat untuk rapat para pejabat Kawedanan

Wisata Congot

Wisata Congot

Wisata Congot Walaupun Kabupaten Purbalingga tidak memiliki wisata pantai, namun memiliki wisata air yang cukup eksotik, yakni Congot yang merupakan pertemuan dua buah sungai, sungai Klawing dan sungai Serayu. Di obyek ini sejak dulu terselenggara pesta adat setempat dalam menyambut panenan ikan dan penaburan benih ikan. Pesta dimulai dengan lomba balap perahu sungai dan lomba menghias perahu yang diteruskan mendayung perahu bersama sama menuju suatu tempat untuk kemudian makan bersama (seluruh penduduk desa), menikmati panenan ikan yang didapat dari kedua sungai tersebut. Malam sebelumnya diselenggarakan pertunjukan wayang dan lomba menjaring ikan. Pesta tradisonil rakyat ini sudah turun temurun dipercaya sebagai sarana untuk melanggengkan ketersediaan ikan di kedua sungai tersebut. Obyek wisata ini terletak di desa Kedungbendo, kecamatan Kemangkon

Curug Karang

Curug Karang


Curug Karang Dalam perjalanan ke Gua Lawa, ada beberapa air terjun yang menarik (Curug) obyek wisata. Salah satunya adalah Curug Karang (Karang Air Terjun). Dinamakan Curug Karang karena memiliki bebatuan hitam terjal dengan tiga tingkat air terjun.

Jarak dari pusat kota Kabupaten Purbalingga ke lokasi, desa Tanalum sekitar 37km.

Wednesday, 20 October 2010

ALUN ALUN KOTA PURBALINGGA

Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, khususnya di Jawa, yang memegang konsep “Kiblat Papat Lima Pancer” dalam tata kota. Maksud Kiblat Papat, atau Kiblat empat adalah bahwa pusat kota biasanya terdiri dari pusat ibadah (sebelah Barat), pemerintahan (sebelah selatan), pasar/perekonomian (sebelah timur), dan pertahanan/keprajuritan (sebelah utara), sedangkan Lima Pancer adalah alun-alun/lapangan yang berada ditengah sebagai pusat tempat berkumpul. Konsep ini banyak dianut oleh sebagian besar kota di Indonessia, khususnya di Jawa, meskipun tidak kaku, artinya kadang posisi saling bertukar, kecuali alun-alun dan pusat ibadah, sedang bagian pertahanan/keprajuritan untuk sekarang ini terganti oleh Lembaga Pemasyarakatan.
Di Purbalingga, yang juga menganut konsep Kiblat Papat Lima Pancer ini, menempatkan pusat pemerintahan di sebelah Utara, perekonomian/pertokoan di sebelah selatan, dan Lembaga Pemasyarakatan di sebelah timur. Alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan public area, benar berfungsi sebagai mana adanya. Hal ini terlihat dari ramainya warga yang berwisata murah meriah disana.
Keramaian alun-alun Purbalingga sangat terasa menjelang sore hingga malam hari, khususnya di akhir pekan. 
Pengunjung pun dimanjakan dengan berbagai kuliner khas Purbalingga, berbagai permainan anak-anak (karena sebagian besar pengunjung adalah keluarga yang membawa anak kecil). Demi kenyamanan-kebersihan pengunjung, pemerintah kabupaten Purbalingga, menerapkan aturan untuk setiap pedagang hanya bisa menjajakan dagangan di sore hingga malam, selain itu pembangunan toliet di sudut-sudut alun-alun. Kebersihan yang mengundang kenyamanan sangat dijaga oleh pemerintah juga warganya. Tempat sampah yang disediakan benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Alun-alun sebagai public area tidaklah cukup mampu untuk menampung minat warga untuk berekreasi murah, mengingat luasnya yang terbatas. menghadapi keadaan yang demikian, pemerintah sudah menanggapi dengan membangun dan mengkondisikan dua tempat (untuk sementara ini, semoga dikemudian hari bertambah), yaitu halaman Stadion Goentoer Darjono, dan Taman Kota yang didirikan dibekas pasar kota. Public area merupakan sarana warga masyarakat berinteraksi satu dengan yang lain disamping memiliki keuntungan lain dari segi ekonomi, baik melalui perdagangan maupun wisata.
http://mugiwaraluffy.wordpress.com/2010/05/20/alun-alun-purbalingga/

Tuesday, 19 October 2010

PENDAKIAN GUNUNG SLAMET PACU ADRENALIN MU

Gunung Slamet (3.432 meter) adalah gunung berapi yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah, dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa. Terdapat empat kawah di puncaknya yang semuanya aktif.


Di kaki gunung ini terdapat sebuah kawasan wisata bernama Baturraden atau Batur Raden. Kawasan wisata ini biasa dicapai orang dari kota Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas.

Gunung Slamet merupakan salah satu gunung yang menjadi tujuan ekspedisi para pendaki, baik dari wilayah setempat maupun wilayah lainnya. Gunung ini mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Dalam buku yang berjudul "Three Old Sundanese Poems", terbitan KITLV Leiden tahun 2006, J. Noorduyn menyebutkan bahwa nama "Slamet" adalah relatif baru yaitu setelah masuknya Islam ke Jawa. Dengan merujuk kepada naskah kuno Sunda Bujangga Manik, Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah Gunung Agung.

Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar.

Jalur pendakian

Jalur pendakian standar adalah dari Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Jalur populer lain adalah dari Baturraden.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air, walaupun ada itu juga merupakan genangan air. Kepada pendaki sangat disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari bawah. Faktor lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Tetapi Jika anda melewati jalur bambangan, mungkin masalah air tidak terlalu sulit. Memang para pendaki harus banyak membawa air dari bawah, tetapi sesampainya di pos v atau tepatnya di pos Samhyang rangkah akan terdapat sungai kecil yang letaknya tepat berada di bawah pos v.

Selain rute bambangan,ada pula rute pendakian melewati Dukuhliwung. Dari pos 1 sampai pos 5 yaitu puncak, membutuhkan waktu sekitar 8jam. Dan ada mata air di pos 2 dan 3.

Atau bisa juga melakukan pendakian melalui obyek wisata permandian air panas Guci, rute pendakian melalui guci masih sangat terjal. namun pemandangan di sepanjang rute ini lebih istimewa dibandingkan dengan rute mana pun. Pemandangan alam di rute guci masih sangat alami dan masih sangat liar, berkesan jauh dari peradaban manusia. kedua rute ini dapat ditempuh melewati kota Tegal lalu ke selatan menuju kota Slawi, melewati Lebaksiu, Yomani dan mulai memasuki dataran tinggi Tuwel.

Monday, 18 October 2010

GOWA LAWA

 

LEGENDA GUA LAWA

Menurut cerita rakyat setempat, Gua Lawa mempunyai cerita legenda sendiri yang erat kaitannya dengan terciptanya nama Desa Siwarak. Konon pada waktu Agama Islam mulai berkembang di Pulau Jawa khususnya, maka diwilayah Banyumas ini ada dua mubaligh dengan dua orang pengikutnya yang mendapat tugas mengembangkan agama islam, mereka itu bernama Akhmad dan Mohamad yang kakak beradik serta Bangas dan Bangis. Di dalam bertugas mengembangkan agama islam, mereka mendapatkan tantangan hebat dari Pemerintah Kerajaan Majapahit. Seorang Panglima telah ditugaskan untuk membendung perkembangannya agama Islam, yakni Ki Sutarga. Di dalam tugasnya Ki Sutaraga, telah berhasil mematahkan usaha Akhmad dan Mohamad untuk mengembangkan agama Islam, sehingga dalam menghadapi kekuatan Ki Sutaraga ini Akhmad dan Mohamad terpaksa melarikan diri. Secara kebetulan dapat bersembunyi di dalam Gua Lawa, untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa bagaimana caranya dapat menyelamatkan diri guna selanjutnya melaksanakan tugas mereka.
Dalam keheningan, kedua orang kakak beradik itu, memperoleh ilhan dari Tuhan Y.M.E agar mereka berdua berganti nama yakni Akhmad berganti nama Taruno dan Mohamad berganti nama menjadi Taruni. Setelah mengganti nama masing-masing mereka keluar dari gua.
Belum lama mereka berjalan dihentikanlah mereka oleh seseorang yang gagah perkasa yang ternyata adalah Ki Sutaraga, Senopati Majapahit. Waktu mereka ditanya oleh Ki Sutaraga, apakah mereka melihat Akhmad dan Mohamad, maka dengan cerkdiknya mereka menjawab bahwa mereka sering melihat Akhmad dam Mohamad. Tetapi dua hari yang lalu kedua orang tersebut telah mati diterkam dan dimakan oleh tiga ekor harimau. Satu keuntungan bagi Akhmad dan Mohamad, bahwa ki Sutaraga sebetulnya memang belum pernah melihat dan bertemu mereka. Oleh karena itu, apa yang mereka tuturkan dipercaya sepenuhnya oleh Ki Sutarag. Serta merta Ki Sutaraga memberitahukan kepada pasukannya, bahwa kedua orang yang mereka kejar-kejar itu dua hari yang lalu telah mati dimakan harimau. Bersorak-soraklah pasukan Kerajaan Majapahit itu.


Akhmad dan Mohamad mati ! Akhmad dan Mohamad mati ! “Sedang orang yang mereka katakan mati itu, dengan aman dan tentram pergi menjauh meninggalkan tempat tersebut, pergi keutara untuk melanjutkan perjuangan mengembangkan agama Islam.


Namun, sorak sorai pasukan Kerajaan Majapahit itu tertangkap juga oleh telinga Bagas dan Bagis, pengikut setia Akhmad dan Mohamad. Mereka ingin menuntut balas dan langsung menemui Ki Sutaraga, Senopati yang sakti pilih tanding itu. Dengan lantangnya Bangas dan Bangis menantang Ki Sutaraga untuk berperang tanding. Namun Ki Sutaraga, yang disamping sakti dan waskita itu, tidak menanggapi tantangan Bangas dan Bangis. Sikap Ki Sutaraga membuat Bangas dan Bangis menjadi penasaran, dan dengan kemarahan, mereka menyerang ki Sutaraga. Melihat gelagas yang tidak baik itu, Ki Sutaraga hanya bertolak pinggang, sambil berkata dengan suara gemuruh bergulung – gulung : “ Hai, kamu Bangas dan Bangis ! Kamu berdua adalah manusia-manusia yang tak tau diri, tingkah lakumu seperti binatang saja layaknya “. Demikianlah, karena kesaktian ucapan Ki Sutaraga, dengan menddak sontak, Banga dan Bangis berupa sipat dan wujudnya menjadi dua ekor binatang badak (Jawa : Warak). Melihat kejadian itu, para prajurit berteriak-teriak : “Warak …warak .. !”


Akhirnya setelah Ki Sutaraga diliputi oleh ketenangan, prajurit-prajuritnya berteriak-teriak itu dikumpulkan, sambil diminta untuk menyaksikan ucapannya, yakni : “Hai prajutit-prajurit semua, dengar dan saksikan. Karena peristiwa yang menimpa kedua orang ini yakni : Bangas dan Bangis, yang karena ulahnya sendiri telah berubah menjadi warak, maka supaya kalianlah yang menjadi saksi. Dihari kemudian bila hutan ini dapat tumbuh menjadi pedesaan, maka desa tersebut aku beri nama Desa SIWARAK.


Demikianlah legenda Gua Lawa, yang telah menyelamatkan Akhmad dan Muhamad dan mulai peristiwa yang memberikan nama desa Siwarak. Legenda ini diringkas dari cerita lisan yang disampaikan oleh Bapak Tambak, adik kepala Desa Siwarak, yang Kepala SD. Impres desa Siwarak pada waktu itu. Sebetulnya ceritera yang berbentuk Legenda itu panjang , dimana didalam Legenda tersebut terangkum kisah timbulnya nama-nama yang ada didalam legenda tersebut ada di komplek Gua Lawa. Seperti halnya Gua Ratu Ayu, konon kabarnya didalam Gua itu ada dua orang wanita cantik yang bernama Endang Murdaningsih dan Endang Murdaningkrum. Kedua putri cantik itu mempunyai tiga ekor binatang kesayangan, berupa tiga ekor harimau. Seekor putih, seekor hitam, seekor lagi kuning bunga asem. Konon penduduk disekitar gua pada malam-malam tertentu banyak yang telah melihat harimau kesayangan Ratu Ayu, pernah berkunjung kerumah Kepala Desa, yang dapat berwawancara langsung dengan Kepala Desa Siwarak bersama istrinya dan beberapa orang yang sedang bertugas ronda desa. 

NAMA – NAMA DALAM GUA LAWA

Kita berjalan kemulut gua di sini kita akan menjumpai batu Semar yaitu batu yang mirip tokoh wayang Kyai Semar. Setelah itu kita akan melihat relief seperti pohon beringin putih sehingga disebut Waringin Seto. Dari sini kita berbelok kekanan akan menjumpai gua Istana Lawa dahulu pusat sarang kelelawar (Lawa). Berjalan sejenak belok ke kanan menuju Gua Dada Lawa, gua yang mirip dadanya kelelawar yang sedang membentangkan sayapnya, maka disebut Gua Dada Lawa. Keluar dari Gua Dada Lawa belok ke kanan kita akan melalui pancuran slamet dan Sendang Derajat, menurut cerita rakyat jika anda ingin awet muda cobalah anda cuci muka disini, tentang kebenarannya buktikan sendiri. Setelah itu kita akan memasuki Gua Gangsiran Bupati Guntur Daryono, karena pada waktu peresmian yang menggangsir pertama kali Bapak Guntur Daryono. Dari sini kita akan sampai di gua panembahan, setelah dari gua panembahan kita menuju Gua Rahayu. Kemudian naik sampailah di Batu Keris, dan setelah dari Batu Keris kita menuju Gua Langgar karena ada tempat Pengimaman yang menghadap kearah kiblat. Melalui lorong sempit menuju kearah jembatan terus keluar, lalu masuk ke Gua Cepet, mengapa dinamakan demikian, karena konon orang masuk gua ini sering tersesat dan sukar keluar. Kemudian keluar melalui lorong sempit menuju Gua Ratu Ayu. Selama kita memasuki gua, kita akan tetap merasakan segar karena banyaknya ventilasi-ventilasi gua yang selalu menghembuskan hawa / udara sejuk yang kita rasakan, hal inilah yang mengurangi kelelahan para pengunjung yang tidak terasa lelah menelusuri gua sepanjang ±1.300 m.


Menelusuri Kegelapan Gua Lawa di Purbalingga

OWABONG

OWABONG (objek Wisata Air Bojongsari) adalah tempat wisata air terbesar se Jawa Tengah, +/- 3 jam perjalanan dari ibukota propinsi Jawa Tengah (Semarang) dengan mata air pegunungan yang dijamin dingin dan segar, banyak sekali wahana air yang menarik, diantaranya waterboom, arung jeram, dll. setiap tahun nya pihak pengelola Owabong menambah minimal 2 wahana baru, sekarang sedang di bangun kolam sesat dan rumah eskimo. Di awal bulan mei 2007 ini Owabong menambah wahana perang cat (Paintball) yang mana permainan ini sedang banyak di minati oleh semua kalangan masyarakat saat ini. Selain memacu adrenalin kita permainan ini juga dapat menghilangkan kepenatan yg ada setelah setelah seharian sibuk dgn segala aktivitas nya.

Dalam waktu dekat, kawasan wisata Owabong akan makin lengkap dengan rampungnya pembangunan wahana lain yang disebut pantai bebas tsunami. Ide pembuatan wahana ini didasari kenyataan bahwa masyarakat menyukai pantai tapi takut dengan gelombang tinggi. Pantai bebas tsunami ini akan dibuat mirip pantai sesungguhnya. Ada gelombang, pasir putih, dan sebagainya.
Luas kawasan pantai buatan itu mencapai 1.200 m2. Wahana baru ini diharapkan dapat digunakan pada bulan September 2007 mendatang. Bagi yang suka kebut-kebutan di jalan raya, dapat terpuaskan dengan menjajal sirkuit gokart dan MPV yang yang berada di belakang pantai bebas tsunami. Sirkuit ini memiliki panjang lintasan sekitar 400 meter.

Puas menikmati semua wahana dan fasilitas di Owabong, Anda dapat beristirahat di balai bengong atau di bawah pohon. Sembari duduk-duduk, Anda dapat menikmati aneka makanan, baik tradisional maupun modern. Ingin menginap? Tak perlu bingung mencari hotel. Di kawasan Owabong juga tersedia sarana penginapan yang sangat representatif. Saat ini, tersedia cottage dengan fasilitas 14 kamar yang terdiri dari 10 kamar suite dan empat kamar ukuran family.
Menurut Agus, sepanjang tahun 2006, Owabong dikunjungi oleh 557 ribu orang dengan jumlah pendapatan Rp 1,5 milyar. Bahkan liburan sekolah yang baru lalu, Owabong mencatat rekor dalam jumlah pengunjung, yakni 17 ribu orang pada hari Ahad menjelang liburan berakhir.